
https://www.antaranews.com/
Jepara Pos – Penjabat (Pj) Gubernur Nusa Tenggara Timur, Andriko Noto Susanto, berangkat ke Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, untuk meredakan konflik antarwarga di dua desa, yakni Bugalima dan Ile Pati. Konflik ini mengakibatkan puluhan rumah dibakar dan memakan korban jiwa, termasuk satu orang yang meninggal karena terjebak di dalam rumah yang dibakar.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Kupang, Selasa malam, Andriko menyampaikan rasa keprihatinan Pemerintah Provinsi NTT atas peristiwa kekerasan yang terjadi di Kecamatan Adonara Barat. “Pemprov NTT merasa prihatin dengan aksi kerusuhan ini, dan kami akan melakukan langkah-langkah konkret untuk mengendalikan dan menyelesaikan konflik,” ujarnya.
Rombongan Berangkat ke Lokasi
Andriko bersama sejumlah pejabat menggunakan kapal ferry KMP Ranaka milik ASDP untuk menuju Flores Timur. Mereka dijadwalkan tiba di lokasi pada Rabu, 23 Oktober 2024, pagi. Selain memantau langsung kondisi di lapangan, kunjungan ini juga bertujuan untuk menyalurkan bantuan sosial kepada korban terdampak dan mendalami langkah-langkah apa saja yang perlu segera diambil.
“Kami tidak ingin konflik horizontal ini meluas dan menimbulkan persoalan yang lebih sulit untuk dikendalikan,” tegas Andriko.
Koordinasi dan Upaya Penanganan
Pj Gubernur meminta agar Pemkab Flores Timur segera berkoordinasi dengan Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah) dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) setempat untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak. Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan menahan diri selama proses penanganan berlangsung.
Andriko menekankan bahwa segala bentuk kekerasan tidak boleh dijadikan solusi. “Menggunakan kekerasan justru akan menambah persoalan baru dan tidak menyelesaikan masalah,” tambahnya. Ia berharap masyarakat dapat bekerja sama dan memilih cara-cara yang kooperatif dan damai dalam menyelesaikan konflik ini.
Dampak Terhadap Pilkada Serentak 2024
Pj Gubernur juga mengingatkan bahwa konflik tersebut harus segera diselesaikan sebelum Pilkada Serentak 2024. Ia berharap peristiwa ini tidak menjadi hambatan dalam proses pemilihan, baik di tingkat kabupaten Flores Timur maupun di seluruh NTT. “Kejadian seperti ini berpotensi mengganggu jalannya pilkada jika tidak segera ditangani dengan baik,” ucapnya.
Kronologi Konflik
Konflik bermula pada Senin, 21 Oktober 2024, yang digambarkan sebagai “perang antar kampung” antara warga desa Bugalima dan Ile Pati di Pulau Adonara. Sebanyak 51 rumah dilaporkan dibakar dalam insiden tersebut. Selain itu, empat orang terluka akibat tembakan, dan satu orang meninggal dunia karena terjebak dalam rumah yang terbakar.
Pj Gubernur memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam meredakan situasi. Ia berharap konflik ini bisa segera diselesaikan dengan baik sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.
“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu menangani persoalan ini, dan berharap solusi yang damai segera tercapai,” tutup Andriko.